A. Sorghum Manis

Sorghum [Sorghum bicolor (L.) Moench] termasuk dalam suku Andropogonae, keluarga rumput Poaceae. Tebu (Saccharum officinarum) adalah anggota dari suku tersebut dan memiliki kekerabatan yang relatif dekat dengan sorghum. Tanaman sorghum digolongkan sebagai tanaman tahunan, meskipun merupakan rumput abadi yang tumbuh di daerah tropis dan dapat dipanen berkali-kali (FAO, 1995). Sorghum dikenal dengan berbagai nama: Millet Besar dan Jagung Guinea di Afrika Barat, Jagung Kafir di Afrika Selatan, Dura di Sudan, Mtama di Afrika Timur, Jowar di India dan Kaoliang di Cina (Purseglove, 1972). Di Indonesia sorghum telah lama dikenal oleh petani, khususnya di Jawa, NTB dan NTT. Di Jawa sorghum dikenal dengan nama Cantel, sering ditanam oleh petani sebagai tanaman sela atau tumpang sari dengan tanaman lainnya.

Variasi terbesar dalam genus sorghum terdapat di wilayah timur laut Afrika, yaitu: Ethiopia, Sudan dan Afrika Timur (Doggett, 1988). Diperkirakan tanaman sorghum menyebar ke Afrika Timur dari Ethiopia pada sekitar tahun 200 masehi atau sebelumnya. Tanaman tersebut diadopsi serta dibawa ke negara-negara Afrika Timur dan Selatan oleh suku Bantu, yang menggunakan biji-bijian, terutama untuk membuat bir. Tanaman sorghum dibawa ke India dari Afrika Timur selama milenium pertama masehi. Penyebaran sorghum di sepanjang pantai Asia Tenggara dan seluruh Cina terjadi melalui jalur perdagangan sutra dan melalui jalur laut, diangkut dalam kapal-kapal untuk digunakan sebagai stok makanan selama pelayaran (Smith dan Frederiksen, 2000).

Sorghum terkenal sebagai tanaman yang tahan tumbuh pada kondisi kering. Secara fisiologis, permukaan daun sorghum yang mengandung lapisan lilin dan sistem perakaran yang ekstensif, fibrous dan cenderung membuat tanaman efisien dalam absorpsi dan pemanfaatan air (laju evapotranspirasi sangat rendah). Hasil studi oleh House (1985) menunjukkan bahwa untuk menghasilkan 1 kg akumulasi bahan kering, sorghum hanya memerlukan 332 kg air, sedangkan jagung, barley dan gandum berturut-turut memerlukan 368, 434 dan 514 kg air. Dibanding tanaman jagung, sorghum juga memiliki sifat yang lebih tahan terhadap genangan air, kadar garam tinggi dan keracunan aluminium (House, 1985). Tanaman sorghum dapat berproduksi walaupun di lahan yang kurang subur dan berpasir, air terbatas dan input rendah. Cara penanaman sorghum yang baik yaitu dilakukan dengan cara menanam sorghum pada suhu optimum 23°-30° C, kelembaban relatif 20%-40%, suhu tanah 25°C, ketinggian < 800 m dpl, curah hujan 275-475 mm/tahun, pH 5.0-7.5, dan ditanam pada tanah ringan atau mengandung pasir dan bahan organik yang cukup (House, 1985).

Sorghum memiliki potensi hasil yang relatif lebih tinggi dibanding padi, gandum dan jagung. Bila kelembaban tanah bukan merupakan faktor pembatas, hasil sorghum dapat melebihi 11 ton/ha dengan rata-rata hasil antara 7-9 ton/ha (House, 1985). Pada daerah dengan irigasi minimal, rata-rata hasil sorghum dapat mencapai 3-4 ton/ha (House, 1985). Selain itu, sorghum memiliki daya adaptasi luas mulai dari dataran rendah, sedang, sampai dataran tinggi. Hasil biji yang tinggi biasanya diperoleh dari varietas sorghum berumur antara 100-120 hari (House, 1985).

Produktivitas tanaman sorghum sangat bervasiasi antar varietas. Hasil biji bervariasi dari 1,5 – 7,5 ton/Ha, kandungan brik 13 -24%, kandungan sukrosa 7,2-15,5%, berat batang 24-120 ton/Ha dan hasil biomassa 36-140 ton/Ha (Almodares dkk., 1997). Pada daerah tropis, kapasitas produksi biomassa tanaman sorghum dapat menyamai tanaman tebu atau bahkan lebih besar (Monk dkk., 1984). Dari sisi budidaya agronomi, sorghum manis juga relatif lebih murah dan efisien dibanding tebu. Kebutuhan benih sorghum manis hanya 4-5 kg/Ha, sedangkan untuk menanam 1 Ha kebun tebu diperlukan 4.500-6.000 kg stek bibit tebu (FAO, 2002).

Berdasarkan bentuk malai dan tipe spikelet, sorghum diklasifikasikan ke dalam 5 ras yaitu ras Bicolor, Guenia, Caudatum, Kafir, dan Durra. Ras Durra yang umumnya berbiji putih merupakan tipe paling banyak dibudidayakan sebagai sorghum biji (grain sorghum) dan digunakan sebagai sumber bahan pangan. Diantara ras Durra terdapat varietas yang memiliki batang dengan kadar gula tinggi disebut sebagai sorghum manis (sweet sorghum). Sedangkan ras-ras lain pada umumnya digunakan sebagai biomasa dan pakan ternak (Harian dan de Wet, 1972 ).

Sorghum manis memiliki banyak kegunaan. Biji sorghum yang mengandung karbohidrat cukup tinggi sering digunakan sebagai bahan baku berbagai macam industri, seperti industri bir, pati, dan lem. Laju fotosintesis yang tinggi menyebabkan tinggi batang sorghum manis dapat mencapai 5 m dengan daun yang cukup lebat. Kondisi tersebut menjadikan tanaman sorghum sangat cocok sebagai bahan baku pada proses pembuatan silase (pakan ternak). Biomassa tanaman sorghum manis yang banyak mengandung serat dapat pula digunakan untuk membuat pulp atau kertas (ICRISAT, 1990), sedangkan nira yang terkandung dalam batang sorghum manis mengandung gula yang cukup tinggi sehingga banyak digunakan pada proses pembuatan sirup, jaggery (semacam gula merah), monosodium glutamate, wine dan ethanol.

Sorghum manis merupakan tanaman yang sangat menjanjikan untuk digunakan sebagai bahan baku dalam produksi ethanol skala besar, karena selain di dalam batang sorghum manis terkandung gula total yang cukup banyak, nira dari batang sorghum manis juga mengandung banyak trace element penting untuk pertumbuhan mikrobia dan produksi ethanol (Laopaiboon et al., 2009). Di Cina dan India, penelitian mengenai produksi ethanol dari nira sorghum manis telah banyak dilakukan (Bulawayo dkk., 1996; Bvochora dkk., 2000).

Tanaman sorghum manis juga telah banyak dikembangkan di Amerika (Jackson dkk., 1980), Jepang (Hoshikawa et al.,1988) dan beberapa negara lainnya. Di Indonesia, sorghum manis diintroduksikan oleh Pusat Penelitian Perkebunan Gula pada sekitar tahun 1980 (Sumantri dan Purnomo, 1997). Pada tahun 1995, dilakukan uji coba penanaman sorghum di pulau Madura, Jawa Timur untuk digunakan sebagai bahan baku pada proses produksi monosodium glutamat (Tsuchihashi dan Goto, 2005).

B. Produksi Ethanol Menggunakan Nira Sorghum Manis

Mikroorganisme yang banyak diminati dalam proses produksi ethanol skala industri adalah dari jenis khamir: Saccharomyces cerevisiae, S. uvarum, Schizosaccharomyces pombe, dan Kluyveromyces sp. Dalam suasana anaerobik, khamir akan melakukan metabolisme glukosa menjadi ethanol melalui jalur Embden-Meyerhof (Romano AH, dan Conway T, 1996). Secara keseluruhan, hasil dari reaksi pada jalur tersebut adalah 2 mol ethanol untuk setiap mol glukosa, namun pada prakteknya hasil (yield) ethanol biasanya tidak akan melebihi 90-95% dari hasil secara teori. Hal tersebut dikarenakan sebagian nutrisi akan digunakan untuk mensintesis biomassa sel baru dan kebutuhan lain yang berhubungan dengan jalannya reaksi (Najafpour dan Lim, 2002).

Berdasarkan data penelitian mengenai proses fermentasi nira sorghum manis oleh khamir yang dilakukan di India, galur khamir Saccharomyces cerevisiae menunjukkan kemampuan produksi ethanol yang cukup bagus menggunakan nira sorghum manis dalam sistem batch. Nira yang digunakan mengandung kadar gula total sebanyak 10-11% (w/w) dan menghasilkan kurang lebih 6% (v/v) ethanol. Proses fermentasi berlangsung selama 48 – 72 jam dalam fermentor berukuran 200 liter, tanpa dilakukan penambahan nutrisi pada nira sorghum (Rajvanshi dan Nimbkar, 1988) .

Pengembangan proses fermentasi menjadi sangat penting untuk produksi ethanol yang efisien (Bai dkk., 2004; Laopaiboon dkk., 2007). Pada umumnya, proses fermentasi biasa dilakukan dalam sistem batch (Bai dkk., 2004; Laopaiboon dkk., 2007), yang merupakan sistem kultur tertutup dan berisi nutrisi awal dalam jumlah terbatas (Peter F. Stanbury dkk., 1995). Sistem tersebut memiliki beberapa kelemahan, terutama ketika mikroorganisme yang digunakan memiliki laju pertumbuhan yang lambat dan sangat terpengaruh oleh produksi zat penghambat selama proses fermentasi (Najafpour dkk.,  2004).

Pada proses fermentasi dengan sistem batch, kultur mikroorganisme yang diinokulasikan akan melalui beberapa fase, yaitu: fase lag, log, dan stasioner. Setelah inokulasi, terdapat periode yang menunjukkan pertumbuhan sel mikroorganisme masih sangat lambat. Periode tersebut dinamakan fase lag dan didefinisikan sebagai waktu adaptasi. Dalam proses produksi ethanol komersial, panjang fase lag harus diminimalkan dengan menggunakan jenis inokulum mikroorganisme yang sesuai. Setelah fase lag, laju pertumbuhan sel akan meningkat secara cepat, sel-sel mikroorganisme tumbuh secara konstan dengan laju maksimal. Fase tersebut dinamakan dengan fase log atau eksponensial, fase ketika kurva logaritmik antara konsentrasi biomassa sel berbanding dengan waktu akan membentuk garis lurus dan memiliki kemiringan yang sama dengan µ. Selama fase log, mikroorganisme akan tumbuh dengan laju pertumbuhan spesifik maksimal (µmax) (Stanbury dkk., 1995). Setelah melalui fase exponensial, kecepatan pertumbuhan sel mikroorganisme akan mengalami penurunan seiring dengan berkurangnya nutrisi yang ada pada medium pertumbuhan, fase tersebut dinamakan fase stasioner.

Penelitian yang dilakukan oleh Laopaibon dkk (2007) menemukan bahwa konsentrasi sel awal (initial cell concentration) pada medium fermentasi dalam sistim batch tidak berpengaruh terhadap hasil akhir konsentrasi ethanol, namun dapat mempengaruhi laju produksi ethanol dan konsumsi substrat. Kurva pertumbuhan pada medium dengan konsentrasi gula awal  21 dan 24°Brix hampir sama dengan medium yang mengandung 18°Brix. Jumlah total gula yang dikonsumsi pada fermentasi dengan sistem batch hampir sama dengan sistem fed-batch, namun hasil ethanol dan konsentrasi ethanol maksimal yang dihasilkan pada system batch lebih rendah dibandingkan dengan system fed-batch. Sistem fermentasi fed-batch dapat meningkatkan efisiensi produksi ethanol dalam hal konsentrasi ethanol dan yield ethanol (Laopaibon dkk, 2007 ).

Kemampuan khamir untuk memproduksi ethanol dari nira sorghum manis dalam sistem batch tergantung pada berbagai faktor, diantaranya adalah: spesies atau galur khamir yang digunakan sebagai inokulum, profil gula dalam nira (kandungan sukrosa, glukosa dan fruktosa), dan keberadaan senyawa-senyawa yang bersifat toksik terhadap jasad renik, baik senyawa-senyawa yang berasal dari bahan dasar untuk fermentasi maupun senyawa toksik yang dihasilkan dalam proses metabolisme. Yield ethanol sangat bervariasi antar berbagai galur khamir dan ethanol yang dihasilkan mengalami perbedaan diantara jenis nira yang digunakan sebagai medium fermentasi (Day dan Sarkar, 1982). Efisiensi fermentasi dan produksi ethanol mengalami variasi berdasarkan pada varietas sorghum manis yang digunakan. Hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan proporsi dan jumlah kandungan gula pada berbagai varietas sorghum manis (Imam dan Capreda, 2010).

Faktor-faktor tersebut di atas saling berhubungan satu sama lain sehingga dalam melakukan analisis terhadap hasil fermentasi alkohol harus diperhitungkan terjadinya interaksi antara faktor-faktor tersebut. Spesies ataupun galur khamir yang berbeda akan menyebabkan perbedaan dalam kemampuan menggunakan substrat fermentasi sehingga dapat juga menyebabkan perbedaan dalam kecepatan pengambilan (uptake) nutrien. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan keadaan fisiologisnya sehingga aktivitas enzim-enzim yang berperan dalam fermentasi alkohol juga berbeda di antara spesies khamir yang berbeda dan secara keseluruhan menimbulkan perbedaan dalam kecepatan dan hasil fermentasinya.

Download

Skripsi: Kemampuan Fermentasi Ethanol Delapan Galur Saccharomyces cerevisiae Dalam Nira Yang Berasal Dari Tiga Varietas Sorghum Manis

Referensi

Berthels, N.J., R.R.C. Otero, F.F. Bauer, J.M. Thevelein, and l S. Pretoriu. 2004. Discrepancy in glucose and fructose utilization during fermentation by Saccharomyces cerevisiae wine yeast. FEMS Year Res 4: 683-689.

Brown, S.W., S. G. Oliver, D. E. F. Harrison, and R. C. Righelato. 1981. Ethanol inhibition of yeast growth and fermentation: differences in the magnitude and complexity of the effect. European J. Appl. Microbiol Biotechnol 11: 151-155.

Bulawayo B, Bvochora JM, Muzondo MI, Zvauya R. 1996. Ethanol production by fermentation of sweet stem sorghum juice using various yeast strains: World J Microbiol Biotechnol 12: 357–360.

Cason, D.T., Reid, G.C. and Gatner, E.M.S. 1987. On the differing rates of fructose and glucose utilization in Saccharomyces cerevisiae. J. Inst. Brew 93: 23–25.

Curran, B. P. G. and Bugeja, V. C.1993. Yeast cloning and biotechnology, in Molecular Biology and Biotechnology (Walker, J. M. and Rapley, R., eds.), Royal Society of Chemistry, Cambridge, UK.

C. Wayne Smith, and Richard A. Frederiksen. 2000. Sorghum: Origin, History, Technology, and Production. New York: John Wiley & Sons Inc.

Dayakar Rao B, Ratnavathi CV, Karthikeyan K, Biswas PK, Rao SS, Vijay Kumar BS and Seetharama N. 2004. “Sweet Sorghum cane for bio-fuel production: A SWOT analysis in Indian context”, National Research Center for Sorghum, Rajendranagar, Hyderabad, Andhra Pradesh 500 030, India.

Day, D.F. and D.Sarkar. 1982. Fuel alcohol from sweet sorghum: microbial aspects. Dev. Ind. Microbiol 23: 361-366.

De Mancilha, I.M., A.M. Pearson, J. Waller, and G.J. Hogaboam. 1982. Increasing acohol yield by selected yeast fermentation of sweet sorghum. I. Evaluation of yeast strains for ethanol production. Biotechnol. Bioeng 26 (6): 632-634.

Doggett H. 1988. Sorghum 2nd ed. New York: Wiley.

FAO, Agricultural Department. 2002. Sweet Sorghum in China. World Food Summit, 10-13 June 2002. http//www.fao.org/ag.

FAO. 1995. Sorghum and millets in human nutrition. FAO Food and Nutrition Series No. 2.

F.O. Licht. 2006. World Ethanol Markets. The Outlook to 2015. An F.O. Licht Special Report No. 138.

Goksungur Y, and Zorlu N. 2001. Production of ethanol from beet molasses by Ca-alginate immobilized yeast cells in a packed-bed bioreactor. Turk J Biol 25:265–275

Gibbons, R.W. and A.C. Westby. 1989. Cofermentation of sweet sorghum juice and grain for production of fuel ethanol and distillers wet grain. Biomass 18:43-57.

Gnansounou, E. and A. Dauriat. 2005. Ethanol fuel from biomass review. J. Sci. Ind. Res 64: 809 – 821.

Harian, J.R., and de Wet, J.M.J. 1972. A simplified classification of cultivated sorghum. Crop Science 12 (2): 172-176.

House, L. R. 1985. A Guide to Sorghum Breeding. International Crops Research Institute for Semi-Arid Tropics. Andhra Pradesh, India.

ICRISAT. 1990. Industrial Utilization of Sorghum. Proceedings of Symposium on the Current Status and Potential of Industrial Uses of Sorghum. Andhra Pradesh, India

ICRISAT/FAO. 1996. The World Sorghum and Millet Economies: Facts, trend and outlook. Published by FAO and ICRISAT. ISBN 92-5-103861-9. 68p.

Imam, T. and S. Capareda. 2010. Ethanol fermentation from sweet sorghum juice. ASABE Paper No. 1009693. St. Joseph Mich.:ASABE

Kim M, Day DF, Han K (2010) Evaluation of sweet sorghum as a feedstock for bio-ethanol production. Appl Biochem Biotechnol (submitted on July 28, 2010, manuscript number, ABAB-2578)

Kaye, S. 1980. A rapid screening blood alcohol analysis for the local pathologist. Am. J. For. Med. and Path 1: 205-208.

Laopaiboon, L.; Nuanpeng, S.; Srinophakun, P.; Klanrit, P. and Laopaiboon, P. 2008. Selection of Saccharomyces cerevisiae and investigation of its performance for very high gravity ethanol fermentation. Biotechnol 7 (3): 493-498.

Laopaiboon, L.; Nuanpeng, S.; Srinophakun, P.; Klanrit, P. and Laopaiboon, P. 2009. Ethanol production from sweet sorghum juice using very high gravity technology: Effects of carbon and nitrogen supplementations. Biores Technol 100 (18): 4176-4182.

Laopaiboon, L.; Thanonkeo, P.; Jaisil, P. and Laopaiboon, P. 2007. Ethanol production from sweet sorghum juice in batch and fed-batch fermentations by Saccharomyces cerevisiae. World J Microbiol Biotechnol 23 (10): 1497-1501.

Li Dajue and Liao Fusun. 1992. Sweet Sorghum and its Utilization. Publishing House of Sciences & Technology: Chinese.

Liu, R., J. Li, and F. Shen. 2008. Refining bioethanol from stalk juice of sweet sorghum by immobilized yeast fermentation. Renew. Energy 33: 1130-1135.

Maziar, S.A. 2009. A study on some efficient parameters in batch fermentation of ethanol using Saccharomyces cerevesiae SC1 extracted from fermented siahe sardasht pomace. Af J Biotechnol  20: 2906-2912.

Meneses, F.J., P.A. Henschke, and V. Jiranek. 2002. A survey of industrial strains of Saccharomyces cerevisiae reveals numerous altered patterns of maltose and sucrose utilization. J. Inst. Brew 10: 310-321.

Monod, J. 1949. The growth of bacterial cultures. Annu. Rev. Microbiol. 371 -394

Najafpour, G.; Younesi, H. and Ismail, K.S.K. 2004. Ethanol fermentation in an immobilized cell reactor using Saccharomyces cerevisiae. Biores Technol 92 (3): 251-260.

Nitta, Y., A. Kamiyama, T. Matsuda, S. Nakamura, Y. Goto, E. Inoue, K. Narisawa, Y. Kurusu, H. Ohta, S. Chonan, A. Toyoda, T. Kato, H Kobayashi, M. Komatsuzaki, and T. Sato. 2008. Sweet sorghum cultivation as bio-fuel crop in Ibaraki prefecture. J. Crop Sci (Extra1): 90-91.

Prasad, S., A. Singh, N. Jain, and H.C. Hoshi. 2007. Ethanol production from sweet sorghum syrup for utilization as automotive fuel in India. Energy Fuels 21: 2415-2420.

Pretorius, I.S., du Toit, M. and van Rensburg P. 2003. Designer khamirs for the fermentation Industry of the 21st Century. Food Technol. Biotechnol 41(1): 3–10.

Pretorius, I.S. 2001. Gene technology in winemaking: New approaches to an ancient art. Agri. Consp. Sci 66: 1–20.

Purseglove JW. 1972. Sorghum bicolor (L.) Moench. In: Tropical Crops. Monocotyledons. Longman Group Limited, London.

Ratanavathi CV, Dayakar Rao B and Seetharama N. 2003. Sweet sorghum stalk: A suitable raw material for fuel alcohol production. National Research Center for Sorghum (NRCS), NRCS Report Number-12/2003, NATP (NRCS) series No. 1.8 pp.

Rajvanshi, A. K., Jorapur, R. M., and Nimbkar, N. 1994. Sweet sorghum R & D for food and fuel. Pages 29-34 in To explore the possibilities of cultivation and processing of supplementary sugar crops : proceedings of VII Joint Convention of the Deccan Sugar Technologists’ Association (DSTA) and the Sugar Technologists Association of India, DSTA, Pune 411 005, India.

Rajvanshi, A.K. and Nimbkar, N. 2005. Sweet Sorghum R & D at the Nimbkar Agricultural Research Institute (NARI). PO. Box 44, Phaltan – 415 523, Maharashtra, India.

Reddy BVS and Sanjana Reddy P. 2003. Sweet sorghum: characteristics and potential. International Sorghum and Millets Newsletter 44:26–28.

Reddy, L.V.A. and Reddy, O.V.S. 2006. Rapid and enhanced production of ethanol in very high gravity (VHG) sugar fermentations by Saccharomyces cerevisiae: Role of finger millet (Eleusine coracana L.) flour. Proc Biochem 41 (3): 726-729.

Romano AH, and Conway T. (1996) Evolution of carbohydrate metabolic pathways. Res Microbiol 147(6-7): 448-55

Rooney, W.L., J. Blumenthal, B. Bean, and J.E. Mullet. 2007. Designing sorghum as a dedicated bioenergy feedstock. Biofuels Bioprod. Bioref 1: 147-157.

Sato, K. and K. Yoshikawa.1988. Growth and growth estimation Saccharomyces cerevisiae in solid-state ethanol fermentation. Ferment. Technol 66: 667-673.

Saxena, R.C., D.K. Adhikari, and H.B. Goyal. 2009. Biomass-based energy fuel through biochemical routes: A review. Renewable and Sustainable Energy Reviews 13:167-178.

Seetharama N, Dayakar Rao B, Ratnavathi CV, Shahid Parwez Md, Binu Mathew, Singh K and Singh B. 2002. Sweet sorghum – an ancillary sugar crop. Indian Farming 36(4): 7–8.

Soltani A dan Almodares A. 1994. Evaluation of the investments in sugar beet and sweet sorghum production. National Convention of Sugar Production from Agricultural Products, 13−16 March 1994, Shahid Chamran University, Alwaz, Iran.

Sorghal.. 1997. Agronomic aspects of Sweet Sorghum and its utilization as biofuels in Wallonia (Belgium). European Energy Crops InterNetwork (Doc. B10092).

Steduto, P., N. Katerji, and H. Puertos-Molina. 1997. Water-use efficient of sweet sorghum under water stress conditions: gas-exchange investigations at leaf and canopy scales. Field Crop Res 54: 221-234.

Sumantri, A. and E. Purnomo. 1997. Sweet sorghum research and development in Indonesia. Proc. 1St Int. Sweet Sorghum Conf., Inst. Bot. Chin. Acad. Sci., China.

Tsuchihashi, N. and Y. Goto. 2004. Cultivation of sweet sorghum (Sorghum bicolor (L.) Moench) and determination of  its harvest time to make use as the raw material for fermentation, practiced during rainy season in dry land of Indonesia. Plant Prod. Sci 7:  442 – 448.

Tsuchihashi, N. and Y. Goto. 2005. internode characteristics of sweet sorghum (Sorghum bicolor (L.) Moench during dry and rainy season in Indonesia. Plant Prod. Sci 8: 601-607.

Wu, X., S. Staggenborg, J. L. Propheter, W. L. Rooney, J. Yu, and D Wang. 2010. Features of sweet sorghum juice and their performance in ethanol fermentation. Industrial Crops and Products 31: 164-170.

Leave a Reply