Kompas, Senin 28 Juli 2008 Hal. 1, 15.

The Indonesian people have become a nation of coolies and a coolie among nations (Soekarno), ia mencuplik dari seorang sarjana Belanda. Ucapan eine nation von kuli und kuli unter den nationen aslinya dilontarkan oleh Helfferich, warga Jerman. Tidak jelas apakah ia adalah Emil atau Theodor Helfferich, dua orang bersaudara yang datang ke Pulau Jawa dan membeli tanah di Cikopo, Bogor.

Dalam perjalanannya, Belanda membutuhkan bangsa Indonesia yang bodoh agar bisa diperlakukan sebagai kuli yang percaya bahwa hanya bangsa kulit putih yang mampu berbuat benar. Bangsa Indonesia terjebak pada situasi self fulfilling prophecy, ramalan kutukan yang menjadi kenyataan. Menurut Hatta, stigma sebagai kuli yang inferior sudah dipercaya memang sudah suratan takdir oleh bangsa Indonesia sendiri dan hal ini dinilai sebagai kerusakan sosial akibat penindasan VOC, cultuurstelsel dan kebengisan dalam pelaksanaan Agrarische Wet 1870.

Pada karya Pramoedya Ananta Toer, Jalan Raya Pos, Jalan Daendles (2005), terdapat kutipan ucapan ‘Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain”. Itu tak lain adalah ucapan tokoh Minke (personifikasi tokoh pres nasional RM Tirto Adhisoerjo) dalam tetralogi Bumi Manusia.

Banyak kisah tragis warga Indonesia di luar negeri yang tewas, dihukum mati, dipenjara, disiksa dan diperkosa sebagai tenaga luar negeri, seperti kisah yang dialami Nirmala Bonat hingga Ceriyati. Impian Soekarno ketika merumuskan Pancasila tentang satu masyarakat bangsa dan tatanan dunia yang adil dan makmur tanpa exploitation de l’homme par l’homme agaknya jauh dan nyaris muskil jadi kenyataan.

Jawabannya mungkin dapat diterangkan dalam buku teks Fundamentals of Ecology karya Eugene P. Odum (1970-an), suatu ekosistem yang lebih tertata akan mengambil keuntungan dari ekosistem di sekitarnya yang kurang tertataI. Implikasinya kota yang lebih tertata ketimbang desa akan menyedot sumber daya desa-desa di sekitarnya. Negara yang maju akan menyedot potensi negara-negara miskin dan sedang berkembang.

Seperti halnya kekayaan hutan, tambang dan lautan Indonesia yang menjadi sumber penjarahan pihak-pihak yang serakah, baik di dalam maupun di luar negeri, jutaan pekerja migran kita juga menjadi sumber korupsi.

Sesungguhnya kedaulan dan martabat bangsa kita sebagai negara dan bangsa merdeka perlu kita gugat lagi jika kita memang menolak menjadi kuli bangsa-bangsa lain!

Bagaimana aplikasinya? Cara merumuskannya? Budak seperti halnya robot tidak berkuasa atas dirinya sendiri, disuruh apa saja harus mau, yang berkuasa adalah bosnya. Budak adalah status, apapun itu pekerjaannya. Baik level paling rendah maupun level paling tinggi. Tergantung cara dan hasil pikir seseorang. Perlu dirumuskan program secara nasional yang berkesinambungan dan dapat menjadi blue-print bangsa Indonesia, yang link and match, dan segala program yang dibuat tidak membuat jurang kemiskinan baru dan perbudakan baru.

Leave a Reply