Jika berbicara tentang cita-cita dalam hal rencana karier yang ingin saya kembangkan, maka semuanya akan dimulai dari semenjak saya lahir hingga saat sekarang ini, sebagai mahasiswa PS. Bioteknologi UGM. Cita-cita saya mengalami perubahan seiring dengan berjalanya waktu, bertambahnya pengetahuan dan perubahan cara saya dalam menilai segala hal yang terjadi di sekeliling saya. Saya mulai berfikir tentang cita-cita pada waktu pertamakali saya mulai mendapatkan pengetahuan dari orangtua saya, yaitu pada saat saya masih kanak-kanak. Pada masa tersebut saya bercita-cita ingin menjadi seorang pilot, karena saya mendapat pengetahuan bahwa pilot bisa terbang dan saya berpendapat terbang adalah sebuah hal yang menyenangkan, layaknya burung yang selalu dapat berkicau riang dan terbang bebas di udara. Kemudian ketika saya beranjak ke jenjang pendidikan formal yaitu TK dan lalu SD, saya mulai mendapat pengetahuan-pengetahuan baru yang mengubah pola berfikir saya.

Cerita-cerita baru berkaitan sejarah keluarga dan sanak famili mulai saya dapatkan. Cerita tentang sejarah dan silsilah keluarga, baik itu yang berasal dari orangtua maupun kakek-nenek saya adalah yang paling berperan dalam merubah sudut pandang saya tentang cita-cita pada rentang waktu TK hingga SD. Kakek saya adalah seorang sopir di sebuah pabrik susu yang berada yogyakarta. Saya bangga terhadap kakek saya karena saya berfikir bahwa menjadi supir adalah pekerjaan yang penuh pengabdian, memikul tanggungjawab besar berkaitan dengan keselamatan orang yang disupirinya. Hal itu menyebabkan saya bercita-cita untuk menjadi sopir seperti kakek saya.

Cita-cita saya untuk menjadi supir terus tertanam dalam otak saya hingga saya mengenyam pendidikan di Universitas Gadjah Mada Yogyakata. Namun seiring bertambahnya pengetahuan saya, cara pandang saya terhadap profesi sopir mulai mengalami perkembanggan yang lebih luas. Saya mulai menganggap bahwasanya profesi sopir itu tidak hanya seseorang yang mengemudikan kendaraan untuk mengantar seseorang dari satu tempat ke tempat yang di inginkan orang tersebut. Menurut pendapat saya saat ini, sopir adalah setiap orang yang diberikan sebuah amanat untuk mengarahkan sebuah unit kerja yang membawa orang atau bebarapa orang ke suatu tujuan yang telah ditententukan dengan penuh tanggungjawab. Dengan demikian, sopir bisa saja seorang pemimpin organisasi, pemimpin instansi, pemimpin perusahaan, seorang guru, atau bahkan seorang presiden yang bertanggungjawab mengantarkan Indonesia menuju sebuah negara yang seluruh rakyatnya merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Dari beberapa pilihan profesi yang saya anggap sebagai sopir tersebut, saya memilih bercita-cita untuk menjadi guru saja. Saya berpendapat bahwa guru adalah orang yang berperan sangat penting dalam mewujudkan cita-cita luhur sebuah bangsa, seorang yang memikul tanggung jawab besar dalam mendidik rakyat dan menghantarkan mereka kepada sebuah masa depan yang lebih baik. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh untuk memperbaiki kondisi yang ada sekarang ini memang hanyalah melalui pendidikan, tidak ada pilihan jalan yang lainnya.

Untuk menjadi seorang guru yang baik dan benar tidaklah mudah, maka dari itulah profesi tersebut saya jadikan cita-cita, karena bagi saya masih sangatlah jauh jalan yang harus saya tempuh untuk mencapainya: “menjadi seorang guru yang baik dan benar”. Menurut saya seorang guru yang baik adalah seseorang yang mampu mendidik dengan cara yang benar, tidak hanya mengajar; mampu membimbing dengan arahan yang benar, bukan mendikte; serta mampu bersikap adil dan merdeka sejak dalam pikiran.

Rencana pertama saya agar dapat menjadi seorang guru dengan kriteria tersebut tentu saja adalah dengan sekolah, dalam hal ini yang pertama saya tempuh adalah sekolah formal. Selepas sekolah SMA, saya melanjutkan sekolah sarjana di Jurusan Mikrobiologi Pertanian UGM, Lalu sekarang melanjutkan lagi untuk jenjang S2 di Program Studi Bioteknologi UGM program Double Dergree. Dari Jenjang S1 dan S2 yang saya tempuh, maka dapat saya katakan bahwa bidang keahlian yang tekuni adalah Bioteknologi Pertanian. Hal tersebut dapat saya jadikan acuan untuk rencana-rencana saya berikutnya, dan sepertinya sudah mulai jelas pula gambaran samar tentang masa depan saya, yaitu menjadi guru yang memiliki keahlian khusus di bidang Bioteknologi Pertanian, khususnya Mikrobiologi.

Agar dapat melaksanakan rangkaian proses pendidikan, tentu saja seorang guru haruslah memiliki tempat untuk mendidik (biasa disebut sekolah). Memang tempat bagi guru untuk bisa mendidik bisa dimana saja tanpa ada batasan ruang, namun demikian untuk dapat mewujudkan sebuah proses pendidikan bermutu dan berkualitas yang dapat memacu perkembangan ilmu pengetahuan di bidang bioteknologi, maka diperlukan sebuah tempat dengan sarana dan prasarana yang memadahi. Untuk mewujudkan sarana pendidikan yang berkualitas memang tidaklah murah, apalagi dalam bidang bioteknologi, tentu saja diperlukan dana yang cukup besar. Karena saya bercita-cita ingin membangun sekolah saya sendiri, maka tentu saja saya harus merencanakan sebuah jalan untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan dalam pembangunan sekolah tersebut, dan mutlak saya harus menempuh jalan yang baik dan benar untuk mendapatan dana yang saya butuhkan.

Jalan yang saya rencanakan untuk dapat mengumpulkan dana guna membangun sekolah yang saya cita-citakan adalah dengan mendirikan sebuah perusahaan industri. Saat ini saya sedang mencoba merintis sebuah usaha produksi probiotik untuk hewan ternak. Unit usaha tersebut saya dirikan di daerah Bligo, Ngluwar, Magelang dibawah naungan CV. Gama Agri Mandiri (www.gamaagri.com) yang saya bentuk bersama rekan-rekan saya. Saat ini unit usaha kami telah secara aktif melakukan produksi produk biofeed yang merupakan probiotik ternak yang mengandung 3 jenis bakteri asam laktat (Lactobacillus, Bifidobacterium, dan Streptococcus). Ketiga bakteri tersebut dapat memberikan efek baik dan menguntungkan bagi kesehatan hewan ternak karena terbukti mampu merubah gula (termasuk laktosa dan karbohidrat) menjadi asam laktat dan bakteriosin yang dapat menekan atau mengurangi kesempatan mikroorganisme yang bersifat merugikan untuk tumbuh dan berkembang.

Produk biofeed diproduksi dengan cara menumbuhkan bakteri asam laktat (BAL) pada medium pertumbuhan berupa bahan organik yang telah diperkaya dengan protein susu selama 14 hari. Pada akhir proses produksi, didapatkan bakteri asam laktat sebanyak 10.000.000 – 1.000.000.000 sel/gram dengan kandungan protein yang cukup tinggi pada bahan pembawa. Berdasarkan data hasil pengujian, biofeed terbukti mampu meningkatkan konsumsi pakan dan efisiensi pencernaan sehingga bobot sapi dapat mengalami pertambahan sebanyak 30% lebih tinggi dibandingkan kontrol (pakan tanpa pemberian biofeed).

Sejarah pengembangan produk biofeed tersebut dimulai pada awal tahun 2011, pada saat itu saya dan teman saya Tunggul Widiantoro yang tergabung dalam tim Bangun Indonesia melakukan program kegiatan recovery pasca erupsi Merapi di desa Krinjing, Dukun, Magelang. Salah satu program kegiatan yang kami lakukan adalah pelatihan pembuatan pakan ternak fermentasi (silase) menggunakan starter berupa bakteri asam laktat yang diambil dari rumen sapi. Pada waktu itu, tujuan dari fermentasi pakan ternak menggunakan bakteri asam laktat adalah untuk mengawetkan hijauan pakan ternak. Harapan kami adalah dengan dikuasainya teknik pembuatan silase oleh para peternak di lereng merapi, maka jika kelak kembali terjadi erupsi gunung Merapi dimana seluruh hijauan pakan ternak tertutup abu vulkanik, para peternak dapat memiliki stok pakan sapi yang telah diawetkan sehingga mereka tidak perlu mengambil resiko untuk mencari hijauan pakan ternak di daerah yang berbahaya. Kegiatan pelatihan tersebut terus kami lanjutkan hingga sekarang di daerah-daerah yang membutuhkan.

Memang saat ini skala usaha produksi probiotik ternak tersebut masih sangatlah kecil, dengan fasilitas yang sederhana dan masih sangat jauh dari besar untuk dapat mendanai pembangunan sebuah sekolah, namun setidaknya saya sudah memulai untuk mencoba mengusahakannya, memulai langkah pertama untuk menempuh jalan panjang menuju impian saya. Pada saat ini, saya sudah tidak lagi mempersoalkan apakah saya akan gagal ataupun berhasil dalam meraih impian saya, yang saya lakukan hanyalah mencoba dan terus mencoba untuk berusaha meraih impian itu dengan sekuat tenaga saya, apapun hasilnya nanti biarlah Tuhan yang memutuskannya.

Demikian sedikit tulisan saya mengenai gambaran singkat rencana-rencana dan cita-cita saya, semoga kiranya tulisan ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pembaca dalam melakukan penilaian terhadap diri saya, Terimakasih.

Leave a Reply