“Apabila aku berbicara tentang negeriku, semangatku berkobar-kobar. Aku menjadi perasa. Jiwaku bergetar. Aku dikuasai oleh getaran jiwa ini dalam arti yang sebenar benarnya dan getaran ini menjalar kepada orang-orang yang mendengarkan.”

apa itu revolusi?

aku akan menjawab: Sebuah hasrat untuk menuju peradaban yang lebih baik, terdorong dari peradaban yang kelam, Rasa penderitaan ini. Inilah yang disebut revolusi.

Kita harus mengatasi prasangka kesukuan dan prasangka kedaerahan dengan menempa suatu keyakinan, bahwa suatu bangsa itu tidak ditentukan oleh persamaan warna kulit ataupun agama. Ambillah misalnya Negara Swiss. Rakyat Swiss terdiri dari orang Jerman, orang Perancis dan orang Italia, akan tetapi mereka ini semua bangsa Swiss. Lihat bangsa Amerika yang terdiri dari orang-orang yang berkulit hitam, putih, merah, kuning. Demikian juga Indonesia, yang terdiri dari berbagai macam suku.,”Sejak dunia terkembang, para pesuruh dari Yang Maha Pentjipta telah mengetahui bahwa hanya dalam persatuanlah adanya kekuatan. Mungkin saya ini seorang politikus yang berjiwa romantik, yang terlalu sering memainkan kecapi dari pada idealisme.

Ketika orang Israel memberontak terhadap Firaun, siapakah yang menggerakkan kesaktian? Yang menggerakkan kesaktian itu adalah Musa. Nabi Musa ‘alaihissalam. Beliaupun bercita-cita tinggi. Dan apakah yang dilakukan oleh Nabi Musa? Nabi Musa telah mempersatukan seluruh suku menjadi satu kekuatan yang bulat. “Nabi Besar Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam pun berbuat demikian. Nabi Besar Muhammad adalah seorang organisator yang besar. Beliau mempersatukan orang-orang yang percaya, menjadikannya satu masyarakat yang kuat dan secara gagah perwira melawan peperangan peperangan, pengejaran-pengejaran dan melawan penyakit dari jaman itu. “Saudara-saudara, apabila kita melihat suatu gerakan di dunia, mula mula kita lihat timbulnya perasaan tidak senang. Kemudian orang bersatu di dalam organisasi. Lalu mengobarkan revolusi!

Tags: , ,

29 Comments on Apa itu Revolusi? (Soekarno)

  1. hamba Allah yang fakir says:

    tertarik untuk mengomentari tulisan ini. Nasionalisme…paham yang membanggakan bangsa sendiri (setahu ku). saya dan mungkin Anda orang Indonesia, jadi bangga mjd bangsa Ini. lalu bagaimana kalau seupamanya saya lahir tidak di Indonesia? Di malaysia, misalnya. Tentu saya akan bangga sebagai warga malaysia, bukan Indonesia. begitu juga kalau misalnya kita dlahirkan di Arab, Eropa, dll. Padahal, dulu kita dilahirkan kan tidak tahu mau berbangsa apa, ber nation apa. Yang menentukan itu kan Allah yang juga menciptakan tanah kelahiran siapa pun di seluruh muka bumi ini. jadi, kita semua sama2 dilahirkan di bumi Allah, baik di Indonesia, Cina, Arab atau Eropa. Semuanya bumi Allah bung. lalu kenapa kita harus mengkotak-kotakkan diri dengan label kebangsaan/nasional state alias nasionalisme? dan mungkin hal itu menghalangi kita untuk menjadi saudara se aqidah dengan saudara2 kita di Palestina misalnya, di Xinjiang, Cina (yang saat ini sedang dibantai).
    semoga jadi renungan.

    • Saya dan mungkin Anda orang Muslim, jadi bangga menjadi Muslim. Lalu bagaimana kalau seupamanya saya lahir tidak sebagai muslim karena orangtua saya bukan muslim? Kristen, Katolik, Budha misalnya. Tentu saya akan bangga sebagai penganut agama tersebut. Bukankan Allah memang sengaja menciptakan manusia bersuku2-berbangsa2, agar kita semua saling mengenal, saling menghormati, dan juga saling menghargai?…Iya, anda benar sekali, semua ini adalah bumi Allah,,,dan sekali lagi, Allah menciptakan mausia berbangsa2 dan bersuku2, perbedaan dan keberagaman yang ada pada setiap manusia di mukabumi adalah kehendak Allah…Kenapa kita berfikir jauh ke palestina?, jikalau kita masih terhalangi untuk menjadi saudara dengan orang2 yang didekat kita…Banyak pertikaian di mana2 dengan membawa nama golongannya, bahkan meskipun satu agama, satu aqidah…Kalau memang benar-benar ingin melakukan Amar maruf nahi munkar. Seharusnya kita melakukanya dari mulai yang terdekat dahulu, Seperti yang dilakukan oleh Baginda Rasullullah 14 abad yang silam.

      • mu'allaf says:

        Jadi tertarik untuk mengomentari statement:
        “Lalu bagaimana kalau seupamanya saya lahir tidak sebagai muslim karena orangtua saya bukan muslim? Kristen, Katolik, Budha, misalnya. Tentu saya akan bangga sebagai penganut agama tersebut.”

        Nah, menurut saya, Islam sendiri tidak menjadikan “keturunan” sebagai syarat ber-Islam. Seandainyapun seseorang memeluk Islam karena keturunan, ini merupakan iman yang lemah, iman yang tidak diperoleh melalui proses berpikir yang benar sehingga orang yang ber-Islam karena keturunan umumnya tidak memiliki iman yang produktif. Artinya, ia tidak menjadikan imannya (Islam) tersebut sebagai landasan dan kepemimpinan dalam berpikirnya, apalagi dalam semua aktivitasnya. Demikian pula dengan seseorang yang ber-Islam karena mendapatkan “ketenangan” di dalam Islam, misalnya ketenangan yang didapat ketika sholat, bisa dibilang ia juga beriman bukan dengan proses berpikir yang benar. Bisa jadi, ketika ia tidak lagi kusyu’ ketika sholat n justru menemukan ketenangan ketika meditasi, ia akan berpindah memeluk Budha. Ketika ia menemukan ketenangan dalam ritual Kirstiani, misalnya, ia akan berpindah agama lagi. Begitu seterusnya.

        Islam justru unik karena Islam tidak menjadikan hati nurani (atau karena keturunan) sebagai satu-satunya jalan menuju iman. Islam menjadikan akal sebagai objek pembebanan hukum taklif. Oleh karena itu, sejatinya seorang manusia yang telah baligh wajib mencari kebenaran dengan akalnya tersebut: “Ada apa sebelum kehidupan ini? Apa tujuan manusia diciptakan? Dan ada apa setelah kita mati?”. Tentu saja, manusia akan menemukan jawaban yang shahih (yang sesuai dengan akal dan fithrahnya) atas pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya di dalam Islam. Sebagai seorang muslim, saya yakin bahwa Islam adalah agama yang benar. Allah sendiri berfirman bahwa sejatinya manusia (sebelum dilahirkan ke dunia) telah bersaksi bahwa Allah-lah tuhannya n secara fithrah mereka Islam. Namun demikian, ketika terlahir ke dunia, sebagian manusia justru mengingkari-Nya.

        Benar bahwa Rasulullah terlebih dahulu mendakwahkan Islam di lingkungan sekitar beliau. Namun demikian, begitu hijrah ke Madinah dan berdiri Negara Islam pertama di sana, risalah Islam disebarkan ke seluruh penjuru dunia hingga di masa bani Utsmaniyah, wilayah Islam (yang dihuni oleh beragam bangsa, ras, warna kulit, bahkan penduduknya ada yang menganut Nasrani dan Yahudi) mencapai 2/3 belahan dunia (dalam Sirah Nabawiyah, Tarikh Khulafa).
        Sebagai muslim, tentu kita juga harus peduli dengan permasalahan kaum muslim lainnya (baik itu kaum muslim di Indonesia, Palestina, maupun di negeri-negeri lainnya), n bukan berarti kita hanya memfokuskan perhatian kita pada kondisi Indonesia saja. Sayangnya, nasionalisme justru menjadikan setiap muslim hanya memikirkan bangsanya saja (ashobiyah). Padahal “kaum muslim” dalam seruan Rasulullah pada hadist berikut bersifat umum: “Barangsiapa bangun di pagi hari dan tidak memperhatikan urusan kaum muslim, maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslim).”
        Jzklh.

        (Mohon maaf jika pendapat saya ini terlalu membela Islam. Tapi menurut saya, demikianlah seharusnya seorang muslim ^0^)

        • Anda tidak perlu minta maaf karena membela Islam, karna itu memang hal yang harus kita lakukan sebagai umat Islam…Hanya saja, anda kurang dapat menilai sesuatu dengan objektif dan menyeluruh, serta kurang sinkron antara hal yang didiskusikan, serta komentar anda…Di media ini, kita semua berdiskusi sebagai suatu Bangsa, bukan atas nama golongan ataupun agama tertentu….Terimakasih atas komentar2 yang telah anda berikan di blog ini :)

  2. indrprz says:

    tertarik menanggapi komentar bung hamba allah yang fakir, dan mungkin juga menjawab bung mualaf. yang anda definisikan bung hamba allah diatas adalah chauvinisme bung. sementara nasionalisme indonesia adalah nasionalisme yang berperi-kemanusiaan.bukan nasionalisme ala jerman Nazi, yang mengunggulkan bangsa sendiri dan merendahkan bangsa lain. bahkan bung karno dalam pidato 1 juni dihadapan bpupki menyatakan bahwa hendaknya rasa kebangsaan (nasionalisme) dibangun berdasarkan kekeluargaan sebagai bagian dari komunitas dunia . bung karno berkata”Jangan berkata, bahwa bangsa Indonesia-lah yang terbagus dan termulia, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia. Kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa” (silakan lihat Pidato Lahirnya Pancasila, Soekarno). dalam pidatoyang sama bung karno juga pernal menawarkan konsep trisila sebagai dasar negara , yang salah satunya adalah sosio-nasionalisme. atau nasionalisme yang berperikemanusiaan. nasionalisme (silakan lihat Negara Paripurna, Yudi Latif 2011) .nasionalisme indonesia tidak hanya mencari gebyarnya diluar, tetapi juga selamatnya di dalam . nasioanalisme ala indonesia juga digunakan sebagai alat pemersatu bangsa indonesia yang terdiri dari ribuan bahasa dan suku bangsa, dan ratusan kepercayaan yang tersebar diseluruh negeri. Disisi lain nasionalisme indonesia juga menyatukan segenap bangsa indonesia dengan bangsa lain di dunia sebagai saudara sekeluarga.
    begitu bung menurut saya.

  3. hamba Allah yang fakir says:

    saya sangat respek dengan orang2 yang ingin menyelesaikan problem di bangsa yang terpuruk ini (seperti Anda2) :), maka saya pikir wajar Anda mengahadirkan nasionalisme. ya…sekarang emang kita lagi berdiskusi tentang bangsa kita, ga jamannya lagi ngributin golongan/almamater masing2. Karena persoalan yang kita hadapi adalah sama. Problem manusia.

    konsep nasionalisme seolah-olah menjadi satu-satunya solusi. Masalah sekarang ini muaranya dari mana sih? apakah bisa diselesaikan dengan konsep nasionalisme? kita fair-fair an saja ya…dalam mencari solusi buat persoalan bangsa.

    Selama ini fakta yang saya lihat, kecenderungan nasionalisme hanya aspek ritualistik dan simbolistik saja. Tidak menyentuh pada substansinya. hanya pada simbol-simbol saja, event-event aja (pas ada sepak bola, misal INA vs Malaysia), ritual (upacara bendera). Apakah bisa nasionalisme menyelesaikan persoalan bangsa ini dalam menghadapi intervensi asing di negeri kita yang sangat mengakar?bagaimana caranya? bagaiman real nya dapat mempersatukan bangsa? tidak hanya perasaan semangat saja lho…substansinya gimana?(ini benar2 tanya Lho…)

    tanpa nasionalisme pun, kita sebagai muslim memang harus peduli dengan permasalahan bangsa. kita bisa merujuk pada apa yang disampaikan Rasul bahwa “barangsiapa bangun di pagi hari tidak memikirkan umat, maka tidak termasuk golonganku”. jadi pedulinya kita terhadap masalah bangsa kita ini , itu berdasarkan dalil tersebut, dimata sang pencipta lebih tinggi. Rasulullah sudah berpesan untuk tidak ashabiyah (fanatis nation state). Rasulullah mencela tindakan itu “Celakalah orang2 yang berpegang pada ashabiyah”.

    Islam memang melarang ashabiyah, tapi bukannya tidak peduli dengan persoalan bangsa. Kita berusaha mencari solusi tebaik buat seluruh manusia, tidak hanya menyelamatkan Indonesia saja. Dalam Islam pun dilarang disintegrasi bangsa, justru mempersatuka umat manusia. Keunggulan Islam ini memang tidak hanya aspek ritualitas/spiritual saja(seperti yang dipahami masyarakat sekarang), tapi bisa diterapkan di tengah2 masyarakat.

    kita memang sedang berdiskusi persoalan bangsa , bukan atas nama golongan atau agama tertentu. Yang kita cari adalah solusi yang pas untuk manusia, Kalau solusi itu memang ada pada agama tertentu, kenapa harus phobia dulu?kenapa tidak kita kaji dulu dan membandingkannya dengan solusi lain. Kemudian baru kita sampaikan.

    Semangat!

    • Saya juga sangat menghormati setiap orang yang mau berusaha merubah keadaan menjadi lebih baik, seperti anda juga…Ndak ada hal yang salah dalam diskusi di forum ini, semuanya benar. Mungkin cara yang kami lakukan agak sedikit berbeda dengan anda, tapi sepertinya memiliki tujuan yang sama, untuk membangun sebuah peradaban yang lebih baik, seperti apa yang telah tercantum pada sila terakhir Pancasila: “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, dimana setiap orang, setiap golongan, setiap enis dan suku-suku yang ada dalam Republik ini bisa merasakan kesejahteraan dan kebahagiaan yang sebenar-benarnya, lahir dan bathin.

      Mari kita semua berusaha dengan cara kita masing-masing, dengan metode kita masing2 untuk mewujudkannya. Adanya perbedaan tidaklah menjadi suatu masalah selama kita semua saling menghormati dan menghargai satu sama lain

    • erik_indrprz says:

      bung, nasionalisme Indonesia tentu tidak sedangkal yang anda tuliskan diatas. jika anda tanya apakah bisa menyelesaikan bangsa , jawabannya sudah terjadi sejak masa pergerakan nasional, perjuangan kemerdekaan sampai perjuangan mempertahanan kemerdekaan pasca 1945. dimana perjuangan para pendiri bangsa dengan segenap rakyat berdasarkan pada rasa cinta terhadap tanah air.
      ernest renan berkata bangsa adalah satu jiwa, sementara otto bauer bangsa adalah salah satu persatuan perangai karena persamaan nasib. sementara Soekarno mengatakan bahwa nasionalisme Indonesia harus diletakkan dalam perspektif kebangsaan /nation, tanpa memandang, kepentingan ter tentu, golongan tertentu atau agama tertentu .”Sebagai tadi telah saya katakan: kita mendirikan negara Indonesia yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia,bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat indonesia—semua buat semua! ” (lihat pidato 1 Juni 1945) Inilah yang menggerakkan para pendahulu kita bersatu melawan imperialisme. Apa hubungan nasionalisme dangan menangkal intervensi asing? nasionalisme indonesia bercirikan sosio nasionalisme , yang artinya nasionalisme yang mencari selamatnya seluruh masyarakat dan yang bertindak menurut cara pandang atau norma yang berlaku pada masyarakat itu . Artinya, nasionalisme yang dijalankan atas dasar kepentingan masyarakat secara keseluruhan yang mana segala tinadakan-tindakannya mempunyai makna kontekstual dalam masyarakat itu sendiri. atau seperti kata bung karno “Nasionalisme yang sejati, yang cintanya pada tanah air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi-dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka…Nasionalisme yang sejati, yang bukan semata-mata suatu copie atau tiruan…TIMBUL DARI RASA CINTA MANUSIA DAN KEMANUSIAAN…” Jika kita sebagai bangsa Indonesia cinta terhadap negara ini tentunya, praktek-praktek imperialisme atau kolonialisme gaya baru sepeti yang kita alami saat ini tidak terjadi. hal yang terjadi selama ini dikarenakan sudah dilupakan nya nasionalisme oleh rakyat Indonesia baik di tingkat elit maupun akar rumput. sehingga produk-produk hukum yang ada pun pada prakteknya menyengsarakan rakyat, misalnya UU Penanaman Modal Asing dsb.
      pada intinya pengimplementasian nasionalisme bisa dgn berbagai cara , bukankah yang dikatakan rasul ” bangun dipagi hari memikirkan umat ‘” adalah suatu bentuk cinta manusia dan kemanusiaan? yang menurut soekarno adalah suatu bentuk ‘nasionalisme sejati’ ? kata umat menurut rasul tersebuat diatas saya kira bukan terkotak pada umat islam saja, melainkan seluruh umat manusia , bukankah islam sendiri adalah ‘rahmatan lil alamin’?
      demikian menurut saya bung

      • mu'allaf says:

        Sebelum lebih jauh membahas ttg nasionalisme, saya pikir qt smua harus menyamakan persepsi terlebih dahulu terkait definisi nasionalisme. Jangan sampai qt memperdebatkn sesuatu yg sama, ttpi masing2 qt punya definisi berbeda. Hal ini mirip dengan ketika qt meminta orang Jogja n orang Sunda u/ “cokot” ember, yg bisa jadi jawaban keduanya sama-sama “atos”. Tetapi, “cokot”nya orang Jogja itu b’arti gigit, sementara “cokot”nya orang Sunda b’arti angkat. Meski jawabannya sama2 atos, “atos”nya orang Jogja itu artinya keras, sementara “atos”nya orang Sunda b’arti sudah. Nah, terkait nasionalisme,, saya pikir qt smua harus sepakat bahwa definisinya harus dkembalikan pada definisi yg dbuat oleh org yg pertama kali mencetuskan paham ini. Artinya, ketika bicara nasionalisme dg batasan definisi yg jelas tsb, qt tidak mencampuradukkannya dg chauvinisme, patriotisme, atau -isme2 yg lain. Sependek yg pernah saya kaji, nasionalisme lebih pada sebuah paham kebangsaan.. Nasionalisme menjadikan “penganut” pemikiran ini hanya melihat pada permasalahan bangsanya saja, atau melihat scope bangsanya sendiri ketika melihat setiap permasalahan.
        (padahal sejatinya, ketika sebuah bangsa ingin menjadi bangsa yang bangkit dan mandiri; tentu ia tidak dapat lepas dari pemikiran yang lebih menyeluruh dan mendalam yang dijadikan pijakan untuk bangkit,, karena setiap negara di dunia ini tidak lepas dari konstelasi dunia secara global. Artinya, setiap negara di dunia pasti “terkena dampak” dari diterapkannya ideologi yang saat ini sedang menghegemoni dunia : KAPITALISME. Nah, tawaran solusi seperti apa yang ditawarkan nasionalisme (yang scope-nya nasional) terhadap hegemoni kapitalisme (yang scope-nya internasional)???) [saya sungguh-sungguh bertanya lho0]

        Nah, terkait tulisan Bung Erik yg menyatakan bahwa “Bung, nasionalisme Indonesia tentu tidak sedangkal yang Anda tuliskan di atas. Jika Anda tanya apakah bisa menyelesaikan bangsa, jawabannya sudah terjadi sejak masa pergerakan nasional, perjuangan kemerdekaan…di mana perjuangan segenap rakyat berdasarkan pada rasa cinta terhadap tanah air”, ada sebuah tulisan menarik dari Idries de Vriest (aktivis muslim Belanda) yg melakukan pengkajian mendalam lewat sumber2 asli media massa/koran Belanda terbitan lama atau laporan2 tertulis d era penjajahan saat itu. Karena baru2 ini, perpustakaan Kerajaan Belanda menyediakan d internet isi koran2 Belanda pd periode 1618-1995. Dg informasi2 tsb, periode kolonialisme Belanda d Indonesia dapat dicek ulang secara independen. Dg informasi2 tsb pula, ‘sudut pandang’ dlm buku2 sejarah yg beredar saat ini dapat diverifikasi ulang keshahihannya. Tulisan de Vriest justru menyimpulkn bahwa spirit perlawanan rakyat Indonesia terhadap Belanda pd masa itu lebih didominasi oleh spirit Islam, bukan nasionalisme.
        [silahkan search isi koran2 Belanda tsb (yg tentu saja berbahasa Belanda) d internet,, atau tunggu posting saya tkait tulisan de Vriest tadi ^0^].

        Sm0ga posting saya nantinya dapat menjadi ‘sudut pandang’ baru dlm melihat perjalanan sejarah negeri ini,, karena menurut saya, buku2 sejarah yg beredar selama ini (yg qt pelajari dari SD smpai SMA) cukup bias n subjektif.

        Nah, silahkan dilanjutkan diskusinya ^o^

  4. erik_indrprz says:

    wah menarik sekali bung mualaf, memang benar bahwa semangat yang dibawa pertama adalah islamisme. Kita dapat lihat H Agus Salim,HOS Tjokroaminoto dengan Serikat Dagang Islamnya, (yang kemudian menjadi SI), Hasyim Ashari dengan NU. Ahmad Dahlan dengan Muhamadiyah nya. Dan memang perjuangan pergerakan kemerdekaan terisnpirasi oleh revolusi islam. Namun semenjak tahun 1920an para pemimpin islam sudah menunjukkan kesadaran berbangsa satu. Tulisan Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme pd tahun 1926 oleh Bung Karno (dapat dilihat di DBR jilid 1) dapat dikatakan sebagai awal titik balik pandangan kaum intelektual saat itu yang berjuang secara sektarianisme untuk bersatu menjadi satu bangsa.Dalam beberapa pidatonya bung karno juga mengutip Jamaludin Al Afghani, (sang pendekar Pan Islamisme) Bung karno menyebut Jamaludin Al Afghani ‘telah mengkotbahkan nasionalisme dan Islamisme’
    Kemudian puncaknya adalah sumpah pemuda. Bung mualaf dapat melihat peserta BPUPKI tahun 1945 ada 90% muslim. Ada Ki Bagus Hadikoesoemo dari Muhamadiyah, Wahid Hasyim dari NU, dan masih banyak lainnya. dari gambaran tersebut dapat dilihat bahwa peranan tokoh Islam saat itu sangat tinggi, namun dicermati pula bahwa mereka berjuang atas dasar kesadaran berbangsa , tidak lagi membawa sektarianisme dan ego-ego sektoral. namun kita tidak dapat pula melupakan perjuangan tokoh non muslim, seperti Latuharhary dan lain-lainnya. Silakan lihat buku “Negara Paripurna”, Yudi Latif, dan bukunya AB Koesoema ” Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945 Memuat Salinan Dokumen Otentik Badan Oentoek Menyelidiki Oesaha2 Persiapan Kemerdekaan RM. A.B. Kusuma,”
    Yang kemudian kita dapat ambil dari contoh tersebut diatas adalah kerendah hatian dan kerelaan hati para pemimpin muslim , yang mau mendekonstruksi diri melebur dalam persatuan demi tercapainya tujuan mulia sebagai satu bangsa. demi terwujudnya negara kesatuan Republik Indonesia.
    begitu bung.

    • mu'allaf says:

      Berikut ini saya postingkan tulisan Idris de Vries

      “Islam: Spirit Perlawanan Terhadap Belanda” (Bagian 1)

      Jika kita menelusuri buku-buku sejarah Belanda dan Indonesia, maka akan kita temukan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme Belanda disebabkan oleh penindasan dan eksploitasi yang dilakukan oleh Belanda. Kita pun akan menemui bahwa perlawanan tersebut karena keinginan Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Perlawanan rakyat Indonesia tidak ada hubungannya dengan Islam atau kekhalifahan Islam.

      Untungnya, bagi mereka yang mencari kebenaran, perpustakaan Kerajaan Belanda baru-baru ini menyediakan di internet isi koran-koran Belanda pada periode 1618 – 1995. Ulasan pada koran-koran terbitan lama itu dapat memberikan informasi tentang peristiwa-peristiwa bersejarah seperti yang ditulis saat peristiwa-peristiwa itu terjadi. Dengan menggunakan informasi yang tertulis dalam koran-koran tersebut, periode kolonialisme Belanda di Indonesia dapat dicek ulang secara independen. Dengan informasi tersebut itu pula, ‘sudut pandang’ dalam buku-buku sejarah yang beredar saat ini dapat diverifikasi ulang.

      Berita dalam koran-koran yang terbit di Belanda selama periode 1850-1930 menuliskan pendapat umum bahwa Islamlah yang menyebabkan rakyat Indonesia ‘memberontak’. Misalnya koran Algemeen Handelsblad menuliskan pemberontakan pada tahun 1859 di Bandjarmasin. Koran tersebut menuliskan artikel: “Kami telah melihat bahwa, menurut laporan-laporan yang diterima oleh mister Van Twist dari sumber-sumber sangat terpercaya, pemberontakan-pemberontakan di bagian selatan-timur Borneo jelas bisa ditandai bercirikan Islam atau anti-Eropa.”
      Artinya, menurut koran Algemeen Handelsblad, perlawanan masyarakat Indonesia—di seluruh bagian Nusantara baik itu di Banjarmasin, di Borneo, dan di bagian lain di Indonesia—semuanya disebabkan karena spirit Islam.

      Tahun 1864, koran Algemeen Handelsblad juga menurunkan tulisan tentang kerusuhan di Tegal: “Seorang Troeno telah mencoba mengajak orang-orang Tegal untuk memberontak terhadap kekuasaan Eropa. Rupanya dia menggunakan fanatisme sebagai alatnya.”
      Yang dimaksud dengan kata fanatisme pada koran-koran pada waktu itu adalah Islam.

      Pada tahun 1885, koran Het Nieuws van den Dag bahkan mengatakan bahwa rakyat Indonesia melihat perlawanan mereka sebagai jihad dengan motivasi murni dari Islam. Jihad dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai perang sabil (perang suci): “Di Sukabumi, sekarang rakyat memiliki lima tempat di mana kelompok-kelompok agama bisa berkumpul. Orang-orang yang ikut dalam kelompok-kelompok ini, yang merupakan kaum fanatik, tetap berkumpul setelah sholat Jumat untuk membahas Perang Sabil, Perang Suci.”
      Dari fakta di atas tidak sulit untuk membayangkan bahwa perlawanan Indonesia terhadap penjajahan Belanda didorong oleh semangat Islam.

      Pada tahun 1894, koran Algemeen Handelsblad menulis bahwa Islam menjadi spirit perlawanan: “…Sebab pemberontakan di Pulau Lombok yang paling mungkin, menurut mereka, sebagaimana menurut Mister Willemsen, adalah disebabkan oleh fanatisme Islam.”

      Koran Het Nieuws van den Dag pada tahun yang sama juga mencatat ada hubungan perlawanan di Indonesia dengan bulan puasa Ramadhan: “Kemarin, dekat Anak-Guleng terjadi penembakan. Bulan puasa telah dimulai dan seorang yang syahid selama Perang Sabil ini tentu mendapat balasan surga.”

      Selama beberapa tahun kemudian, koran itu terus menyalahkan Islam atas terjadinya pemberontakan di Indonesia. Sebagai contoh pada tahun 1904, koran Het Nieuws van den Dag menulis: “Pada saat itu orang-orang memberitahukan bahwa di Sukabumi terjadi ‘kerusuhan dengan kekerasan’ yang menunjukkan kemiripan yang terjadi dengan kerusuhan di Sumedang dan Sidoarjo. Dia menganggap kerusuhan-kerusuhan itu diakibatkan oleh fanatisme.”

      Pada tahun yang sama koran itu menulis tentang pemberontakan-pemberontakan di tempat-tempat lain: “Kekuatan yang datang dengan fanatisme adalah salah satu hal yang kita harus sangat perhatikan. Baru-baru ini, kekuatan-kekuatan ini telah berjalan lancar, seperti yang dapat terlihat di Jambi, Korintji, di Kepulauan Gaju. Tragedi di Tjilegon, yang merupakan seruan bagi fanatisme di tempat-tempat lain, dan sekarang terjadi pemberontakan di Gedanggan, mereka semua membuktikannya. Kejadian-kejadian di Sidoarjo, pada dasarnya terjadi di depan mata dua garnisun tentara kita, menunjukkan kepada kita kekuatan ini.”

      Hingga tahun 1908, ternyata penyebab perlawanan rakyat Indonesia tidak berbeda. Koran Het Nieuws van den Dag menulis: “Sekarang kita tahu bahwa ada sebuah sekte Muhammad, de Satria, memiliki tangan atas semua ini – dan lagi membuktikan bahwa pemerintahan Indonesia tidak dapat bertindak terlalu tegas terhadap sikap fanatisme ini yang menerima motivasi dari barat, yang merongrong otoritas kami dan menimbulkan bahaya terus-menerus. Perang Suci melawan ‘kaum kafir’ terus didengungkan, dan hampir sama sekali tak terduga selama pertengahan bulan ini perlawanan yang sangat serius meletus lagi.”

      Pada tahun 1910, koran Sumatera Post juga menyalahkan Islam atas pemberontakan di Padang: “Sejak hari-hari pemberontakan itu, tanda-tanda fanatisme menunjukkan bahwa ia terjadi secara teratur, dan melalui hal itu menjadi jelas berapa banyak daerah di Pariaman, di wilayah-wilayah dataran rendah Padang, merupakan tempat-tempat berkembang biak kaum Muslim (Mohammadans) yang fanatik dari sekte Satria yang menurut laporan pejabat, juga terutama bertanggung jawab atas perlawanan bersenjata pada tahun 1908.”

      Komentar-komentar koran-koran ternama Belanda saat itu mengenai kasus-kasus perlawanan di Indonesia menjelaskan bahwa ada konsensus di Belanda bahwa Islam adalah penyebab yang nyata atas perlawanan tersebut. Islam dilihat oleh Belanda sebagai akar penyebab, bukan nasionalisme. Jadi, tidak benar yang dikatakan buku-buku sejarah di Indonesia perlawanan terhadap penjajahan Belanda hanya dilakukan karena aspirasi-aspirasi nasionalistik.

      [bersambung ke tulisan bagian 2]

      • Sepertinya komentar anda sudah terlalu jauh menyimpang dari pokok bahasan. Tolong kalo komen dirangkum dulu yaa, jangan hanya copas dari web HTI (http://hizbut-tahrir.or.id/201.....-bagian-1/), mending sekalian di tulisin link nya saja biar nggak terlalu panjang lebar.

      • mu'allaf says:

        Sepertinya sudah lama saya tidak mengunjungi laman ini lagi…

        Saya mengambil artikel tsb dari majalah Al Wa’ie no. 133 tahun XII, 1-30 September 2011 halaman 70-71, juga Al Wa’ie no. 134. Alhamdulillah klo bung geministudyclub justru menemukannya di web sbgmn dcantumkan di atas.

        Saya hanya ingin memperlihatkan sejarah dengan sudut pandang yang berbeda. Semoga bisa menjadi wawasan baru. Saya rasa pembahasan di sini cukup “sejarah banget”, jadi saya pikir fair juga jika saya mengetengahkan sejarah juga. Mohon maaf apabila kurang berkenan.

  5. hamba Allah yang fakir says:

    Saya masih sangsi Bung, terkait dengan statement Anda bahwa Mereka Ki Bagus Hadikoesoemo dari Muhamadiyah, Wahid Hasyim dari NU, berjuang atas dasar kesadaran berbangsa. Saya yakin mereka sebagai muslim dalam berjuang, tentu tidak hanya berfikir sebatas sekup kebangsaan saja, mereka punya pemikiran yang lebih tinggi tinggi dari itu. Dimana ketika mereka memahami bahwa Islam itu Universal (menyeluruh) dalam mengatasi problematika hidup manusia (baik dalam ranah individual atau bernegara). tentu mereka berfikir bahwa permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat itu, juga diaalami oleh bangsa2 lain. Dan tentu mereka mencari akar permasalahan itu. Karena sebagai seorang Muslim, ketika dia berjuang baik untuk keluarga, masyarakat, bahkan negaranya, itu semata2 mata demi ridho Alloh, mengharap kerelaan Allah. Itu pencapaian tertinggi sebagai seorang muslim, tidak berdasarkan yang lain. Itulah motivasi kami sebagi Muslim, bung. Ya…meski dalam buku2 sejarah mereka dikenal sebagai pahlawan nasional yang seolah2 berjuang untuk bangsanya sendiri. Tapi hati mereka bung, yang terbalut dengan Islam, tidak berhenti dalam sekup bangsanya sendiri. Itu menurut saya, yang juga sama, ketika melihat problematika sekarang,, saya tidak hanya berfikir tentang bangsa ini saja, tapi manusia di dunia secara keseluruhan. karena Islam mengajarkan itu pada kami.

    Terkait dengan mereka yang non muslim, saya juga sangat respek dan sangat menghargai mereka. Tapi mungkin mereka tidak sampai berfikir seperti taraf yang saya sebutkan di atas (maaf tidak bermaksud merendahkan). Karena menurut saya, ketika seseorang melakukan sesuatu, itu ada landasan berfikirnya. Landasan berfkir itulah yang menjadi standar perbuatan kita. Sebagai Muslim, landasan berfikir kami adalah Islam. Seperti itu, segala perbuatan kami senantiasa hanya untuk mendapatkan ridho/kerelaan dari Allah. Termasuk dalam berjuang, membela negara, belajar, sampai bernafas sekalipun hanya untuk- Nya.

    • Maaf sebelumnya, apakah yang menjadi dasar kesangsian anda tersebut? adakah pustaka-pustaka atau bahan bacaan yang mendukung atas kesangsian anda atau hanya dari pemikiran dan perspektif anda sendiri?

      Silahkan minimal baca buku ini jika ingin menambah pemahaman mengenai karakter nasionalisme kaum Nahdiyin:
      judul: Nasionalisme kiai-konstruksi sosial berbasis agama
      Pengarang: Ali Maschan Moesa
      Link google book:
      http://books.google.co.id/book.....38;f=false

      Ada juga bahan bacaan buku2 lain seperti: Biografi Gus Dur, Islam Kosmopolitan, Gus Dur Islamis dan Kebangkitan, Membangun Demokrasi, Islamku Islam Anda Islam Kita dan Sufi pinggiran…

    • erik_indrprz says:

      hehehe, anda ini gimana to bung Hamba kok malah terbalik logikanya. Ki Bagus Hadikoesoemo dan Wahid Hasyim memang mempunyai berjuang demi nilai yang lebih luas lagi, yaitu kebangsaan itu tadi. mereka kan dari golongan islam, namun mau mendekonstruksi diri dan melebur bersama tokoh2 lain. Lha kebangsaan kan lebih luas dari hanya sekedar sektarianisme agama. kata ‘bangsa’ bukankah telah mencakup suku, ideologi, ras, status sosial, dan bahkan agama dan kepercayaan.
      kebesaran hati tokoh islam ini juga dapat dilihat dari legawa-nya mereka menerima pencoretan 7 kata dari piagam jakarta.
      Saya sudah sebutkan beberapa buku yang dapat dibaca seperti Negara Paripurna karangan Yudi latif dan Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945 Memuat Salinan Dokumen Otentik Badan Oentoek Menyelidiki Oesaha2 Persiapan Kemerdekaan karya RM AB Koesoema.
      di dua buku tersebut diatas telah diceritakan secara jelas. dan jangan kuatir karena kedua buku diatas ILMIAH.

      saya mengamati perkembangan diskusi ini saya lihat beberapa teman memiliki tendensi tertentu dalam setiap pendapatnya. saya pikir marilah kita berpikir secara holistik, mengkaji secara komprehensif, tidak cuma melihat dari satu sudut panjang saja. dan mari dalam ruang publik ini kita mendekonstruksi diri, melepaskan diri kita dari muatan-muatan tertentu. agar pada akhirnya kita dapat memetik sesuatu dari diskusi tersebut.
      Para pendahulu kita telah memberi contoh bagaimana berlapang dada, sekarang giliran kita
      terima kasih _/_ ,

      • mu'allaf says:

        Memang benar kata Bung Erik, terdapat dua sudut pandang berbeda dlm diskusi qt ini. Kalau boleh saya mengelompokkan, Bung Erik dan Bung geministudyclub menggunakan sudut pandang yg sama : sbg pendukung ide nasionalisme; sementara saya dan Bung Hamba Allah menggunakan sudut pandang Islam. Saya melihat bahwa nasionalisme itu adalah sebuah pemikiran. Oleh karena itu, sbg seorang muslim saya harus berhati-hati apakah mau mengambil pemikiran ini ataukah tidak. Karena sejatinya, seorang muslim haram hukumnya mengambil pemikiran2 yg bertentangan dg Islam. Nah, oleh karena itu, untuk menghukumi apakah ide nasionalisme ini boleh diambil atau justru harus ditinggalkan,, saya mengambil pendapat dari para mujtahid yg melakukan penggalian hukum syara’ terkait ashobiyah/nasionalisme. Saya tdk mengambil pendapat, argumen, atau cuplikan dr buku2 lama maupun kontemporer semisal karya Yudi Latif, Gus Dur, atau yg lainnya. Semua ini saya lakukan demi kehati-hatian. Sependek yg saya ketahui, hasil ijtihad seorang mujtahid jauh lebih tinggi nilainya di hadapan Allah dibandingkn pendapat seilmiah apapun. Terkait nasionalisme, sbgmn tulisan saya n Bung Hamba Allah di awal, ashobiyah itu haram hukumnya dlm Islam. Maka dari itu, sbg seorang muslim yg mencintai sesama muslim krn Allah, saya ingin mengingatkn kaum muslin agar tdk terjebak dg pemikiran ini.
        Bukankah Rasulullah sendiri telah mengingatkan, “Celakalah bagi orang-orang yang berpegang teguh pada ashobiyah!”

        Nah, itu tadi sedikit tinjauan secara normatif (masih banyak penggalian dalil-dalil yang menyatakan bahwa kaum muslim tidak boleh berpegang pada ashobiyah). Saya juga akan meninjaunya secara historis n empiris (sbgmn permintaan Bung Erik utk melakukan peninjauan secara komprehensif n holistik). Secara historis, ternyata paham nasionalisme ini dimunculkan sekitar pertengahan abad ke-19 oleh musuh2 Islam. Tujuannya, untuk memecah belah kaum muslim yg selama berabad-abad telah menjadi ummatan wahidah (umat yg satu) n khayru ummah (umat terbaik). Umat Islam semenjak masa Rasulullah hingga 13 abad kemudian menjelang diruntuhkannya kekhilafahan Islam terakhir [sejarah mencatat bhwa Islamlah satu2nya peradaban yg bertahan hingga 13 abad, bndingkan dg sosialisme yg tdk ada 1 abad, n kapitalisme yg baru 2 abad tapi saat ini sudah gonjang ganjing], kaum muslim telah membuang ikatan ashobiyah n mjdkn Islam sbg satu2nya ikatan yg shahih. Secara fakta, memang hanya peradaban Islamlah satu2nya yg mampu menyaingi Barat. Maka dari itu, sangatlah wajar apabila orang2 yg dengki thd Islam selalu berusaha utk menghancurkan peradaban Islam yg luar biasa tsb. Salah satunya adalah dg paham nasionalisme (dalam buku Akar Nasionalisme d Dunia Islam, Konspirasi Barat Meruntuhkan Khilafah Islam). Dg nasionalisme inilah, kaum muslim justru tdk bangga dg Islam-nya, tetapi jauh lebih bangga dg Indonesia-nya, Arab-nya, Malaysia-nya, dll. Nasionalismelah yg mjdkn umat Islam seluruh dunia yg dulu hidup dalam satu naungan, kini terpecah mjd lebih dari 50-an negara. Padahal, kaum muslim haram hukumnya berpecah belah n hidup di bawah lebih dari 1 kepemimpinan.
        Sedikit saya tuliskan kronologis persoalan penting kaum muslim (sebagai gambaran bagaimana nasionalisme justru mengerat-kerat persatuan umat ini) :
        622 M Negara Islam pertama didirikan Rasulullah d Madinah
        630-1711 M Penaklukan Mekkah, pembebasan Mesir, Yerussalem, Persia, Spanyol, Sind, Sisilia, Konstantinopel, Andalusia, Nice/Perancis Selatan, Rusia, pengepungan Wina
        1806 M Rusia n Inggris menyerang Khilafah Islam
        1820-1880 M Penyusupan kaum misionaris ke wilayah2 Khilafah Islam, penyebaran ide nasionalisme oleh musuh-musuh Islam
        1878 M Perjanjian Berlin utk membagi tanah kaum muslim
        1881 M Perancis menguasai Tunisia
        1882 M Inggris menguasai Mesir
        1914-1918 M Perang Dunia I
        1916 M Inggris n Perancis menyetujui pbagian wilayah atas tanah kaum muslim dg perjanjian Sykes-Picot
        1917 Inggris menguasai Baghdad
        1924 M Khilafah Islam diruntuhkan oleh Mustofa Kemal Attaturk dg bantuan kolonial, mengakhiri pemerintahan Islam selama 1300 tahun.
        Setelah Khilafah diruntuhkan, penjajahan tjd di negeri2 muslim yg telah terkerat2 mjd byk negara. Negara2 ini “terbuai” dg nasionalisme n berharap nasionalisme dpt membangkitkn mereka sbgmna kjayaannya dahulu.
        1921-1960an M “kemerdekaan” Iran, Saudi Arabia, Mesir, Irak, Yordan, Libanon, Syria, Pakistan, Indonesia, Maroko, Malaysia, Nigeria, dll.
        1948 M Palestina dikuasai, Israel dibentuk
        1967 M Al Aqsha dikuasai
        .. Berbagai masalah baru di dunia Islam tetap bermunculan n tak terselesaikan : India, Kashmir, Afghanistan, Chechnya, dll.

        Saya ingin mengingatkan kaum muslim bhwa sejatinya nasionalisme adalah paham yg dijadikan senjata utk memecah belah kaum muslim d seluruh dunia shg mereka tdk memiliki persatuan yg hakiki (tdk sebatas ‘persatuan’ dlm OKI ato semacamnya lho). Bukankah Allah qt satu. Al Quran qt satu. Rasulullah qt satu. Lantas, apa yg membuat qt tdk bersatu?!?

        Demikianlah tinjauan saya terkait nasionalisme. Saya tegaskan bhwa saya meninjau nasionalisme sbg sebuah pemikiran; pemikiran vs pemikiran; tidak men-judge ato menjatuhkan siapapun jg (tidak bermaksud menjatuhkan pengusung ide ini).

        Terkait statement Bung Erik ttg “kebangsaan lebih luas dr sektarianisme agama”, pendapat ini sangat wajar ketika yg dilihat adalah fakta sekarang d mana dunia terkotak-kotak dalam nation-state (sebuah design Barat utk memudahkan ‘penjajahan’ thd negeri2 muslim) n Islam dipandang sbg agama yg hanya mengatur tata cara ibadah [inilah pandangan sekuler yg mengkerdilkan Islam, menafikan kemampuan Islamdlm mengatur segala aspek kehidupan]. Hal ini akan jauh berbeda ketika Islam dipandang sbg sebuah dien (dan memang beginilah seharusnya) yg mengatur segala aspek kehidupan (sbgmn pernah diterapkan selama 13 abad). Kalau qt melihat peradaban Islam dahulu, maka “paham kebangsaan” tdk mendapatkan tempat di tubuh umat,, ashobiyah ditinggalkan,, kebanggaan thd bangsa dibuang. Pada saat itu, orang2 yg tinggal d wilayah Arab, Turki, Spanyol, n wilayah2 lainnya dlm naungan Khilafah tdk berbicara sbg bangsa Arab atau bangsa Turki, tetapi semuanya berbicara sebagai warga negara Daulah Islam. Dan perlu diketahui, warga negara Daulah Islam tidak disyaratkan harus beragama Islam. Apapun akidahnya, apabila ia mau tunduk dg aturan2 Islam yg diterapkan negara, ia bisa mjd warga negara yg memiliki hak yg sama dg
        kaum muslim. Nah, dg fakta2 tsb, bukankah Islam jauh lebih tinggi dari sekedar paham kebangsaan??

        Mari qt bertanya pd lubuk hati qt yg terdalam,”Benarkah Islam tidak mampu menyelesaikan setiap permasalahan sehingga qt harus mengambil hukum2 lain yg tdk bersumber dari Islam?” Jangan sampai kaum muslim justru terjebak dengan pemikiran yang menganggap agama itu sebagai candu bagi kehidupan sehingga harus dibuang (sebagaimanan pemikiran Karl Marx, dll).

        Ketika qt membahas tentang suatu permasalahan, saya pikir wajar apabila qt menggunakan sudut pandang tertentu, terutama bagi orang-orang yang menjadikan ideologi sebagai landasan berpikirnya. Dari sinilah akan sangat terlihat perbedaan argumen, dasar argumen, serta solusi yang ditawarkan oleh masing-masing ideologi. Dan sependek yang saya ketahui, ideologi di dunia ini hanya ada 3 : SOSIALISME, KAPITALISME, dan ISLAM. Ketiga ideologi tersebut punya aturan-aturan kehidupan dan asas masing-masing, serta terbukti telah mampu membangun peradabannya masing-masing. Usia peradaban yang dicapai ketiganya pun ternyata berbeda. Nah, peradaban manakah yang kemudian akan qt jadikan “contoh” sebagai peradaban umat manusia saat ini?? Sebagai peradaban baru yang akan menghentikan kesengsaraan umat manusia di bawah KAPITALISME. Sosialisme … ataukah Islam??!!

        Ada sebuah buku yang sangat baik untuk dikaji “Koreksi Total Pemikiran Sosialisme, Komunisme, dan Marxizme”, di dalamnya berisi banyak dalil dan penggaliannya terkait pemikiran tersebut dari sudut pandang Islam serta bagaimana seharusnya kaum muslim bersikap terhadap pemikiran ini. Ini saran saya sebagai seorang muslim yang mencintai sesama muslim karena Allah. semoga bermanfaat.

  6. mu'allaf says:

    saya tunggu juga komentar teman-teman pada artikel “Reksadana UGM : Kapitalisasi yang sangat Kentara”.
    jzklh

  7. aya_nisa says:

    wah,maaf menyela.
    saya pikir kita “terjebak” perbenturan yg tidak seharusnya terjadi.
    kenapa? Satu pihak bersikeras memakai perspektif kebangsaan(gemini dan bung indra) yg lain “ngotot” memakai perspektif Islam sbg konsekuensi penganut Islam.
    maaf,tidak terasa naiv.
    Umat Islam dilarang berpegang teguh pada ashobiyah/dalam hadist lain mengambl hukum thoghut.shahih
    ya,saya setuju.
    tp tolong dong kita jujur,hadist tersebut berlaku untuk wilayah syariah,peribadatan,ibadah.
    bukan yang lain.
    tidak ingatkah sdr hamba dan muallaf, ada pula hadis: kalian lebih tahu urusan (dunia) kalian.
    loh,hubunganya ap?
    titik kritisnya adlh,Indonesia bkn negara Islam,maka tolonglah,jangan memaksakan hukum atau kaidah islam dalam urusan ke-Indonesiaan.
    tentu saja bahasan nasionalis termasuk,karna hal tersebut bukan tmasuk syariat.
    saya cenderung melihat proklamasi kita sbg perjanjian hudaibiyah jaman skrg.
    ini adlh ksepaktn bukti kebesaran hati tokoh2 nasional qt utk hdp mandiri selagi mendukung menegakkan syariat masing2.
    2be continue,mav pk hp

  8. aya_nisa says:

    dengan adanya proklamasi, stiap umat mmiliki hak yg sma utk mwujudkn syariatnya. sekaligus,mwujudkn keharmonisan yg sdh sma2 dsepakati.
    islam itu rahmatan lil alamin,
    ya ayyuhalladzi naa amaanu atiulloha wa atiurrosul wa ulil amri minkum.
    ini perintah bhw org iman wajib toat pd Alloh(Quran),Rosul(Hadist) n ulil amri.AR mutlak,ulil amri bil ahsan selama tdk maksiyat.
    ulil amri ya pmegang pkara.mslh dunia,ya jelas pmerintah yg sah.
    islam mengajarkn bela negara sbg jihad jg loo,
    jadi,hemat sy,bhentilh mbenturkn agm n urusan dunia(nasionalisme).krn ke2 hal tsb tdk bs dsamakn.,
    (insyaAlloh) 2be continue

  9. erik_indrprz says:

    menarik sekali bung mu’allaf, tapi bung bukankah apa yang tertulis didalam 5 sila pancasila sama atau kongruen dengan yang diajarkan islam maupun agama apapun. Jadi menurut saya kita tidak usah lagi mencari ideologi lain lagi. pancasila menurut saya adalah ‘islam dalam konteks indonesia’, ‘kristiani dalam konteks indonesia’, ‘hinduism,budhaism dan agama kepercayaan lain dalam konteks indonesia’. Pancasila disintesis langsung dari sejarah bangsa Indonesia selama ratusan tahun. Bung Karno sendiri berkata “Aku hanya menggali Pancasila daripada buminya bangsa Indonesia. Pancasila terbenam dalam bumi bangsa Indonesia 350 tahun lamanya,- aku gali kembali dan aku sembahkan Pancasila diatas persada bangsa Indonesia kembali.” Seperti yang saya tulis kemarin diatas bahwa 90% anggota BPUPKI waktu itu adalah muslim. dan saya yakin mereka memohon petunjuk tuhan terlebih dahulu. Silakan baca pidato bung karno “Tauhid adalah Jiwaku”
    bung, sejarah telah menunjukkan bahwa selama bertahun tahun manusia selalu terlibat dalam sebuah usaha pencarian yang terus menerus akan ideologi. kita juga bisa melihat apa yang terjadi pada kekhilafahan,kekaisaran romawi suci dan juga bagaimana berakhirnya
    kita membutuhkan pancasila sebagai pemersatu bangsa ditengah pergulatan sejarah yang tak pernah berhenti ini, di tengah dunia yang penuh ketidak sempurnaan ini.Tidak ada ideologi yang ‘ready for use’, dan kita sekarang ada di ‘kawah candradimuka’ pergulatan ideologi tersebut.

  10. aya_nisa says:

    fyi, sy pernah dpt hadist:
    cinta tanah air itu sebagian dari iman.
    sy lupa riwayat apa,tp sanad dan matan hadist ini di takhrij shahih.
    (jelek2 gni,sy mc aktif ikt pengajian tafsir Quran n Khutubushshitah lo,hehe)
    nah tbukti kan,nasionalisme it jg dianjurkn dlm islam…
    :)
    upz,jd OOT ni bahasanx…
    mbok balik ke judul…
    ^_^

    • mu'allaf says:

      al wathon / tanah air dalam definisi Islam,, sependek yang pernah saya baca,, adalah “suatu tempat atau wilayah di mana diterapkan hukum-hukum Allah di sana”.. Jadi, di wilayah manapun diterapkan Islam, wilayah itu adalah tanah air bagi seluruh kaum muslim dan wajib untuk dibela (sebagaimana dulu Islam pernah menguasai 2/3 belahan dunia, maka 2/3 belahan dunia itulah tanah air kaum muslim saat itu).
      Definisi tanah air sebagai “tempat seseorang besar dan dilahirkan” adalah pemyesatan definisi dari orang-orang yang memusuhi Islam untuk mengaburkan pemahaman kaum muslim terhadap definisi yang benar. Dengan definisi ini, lihat bagaimana ego nasionalisme “mengkotak-kotakkan” kaum muslim menjadi 50-an negara seperti sekarang??

      menurut hemat saya,, merupakan suatu keanehan yang nyata.. seseorang mengaku memeluk Islam, tetapi hidupnya tidak mau diatur dengan Islam.

      Semangat!! ^0^

      • aya_nisa says:

        tolong dipahami Bung Muallaf,
        yang kita lihat disini persepsi terhadap objek apa?
        kan nasionalisme kenegaraan to?

        bukan tidak mau diatur oleh (hukum) islam bung, tapi harus jelas tatarannya dimana,
        untuk pemerintahan RI, yg jelas bukan daylah islamiyah, ya janganlah memaksakan doktrin dan hukum islam didalamnya,,,
        tetapi saya percaya memang betul umat islam harus tunduk dan patuh pada ulil amri.
        yang jelas, presiden RI bukan amirul mukmin, meskipun dia ulil amri utk masalah keduniaan saja
        sebagai warga negara yang terikat pada Undang2 (ingat ini hukum buatan manusia) ya harus patuh to pada peraturan yg sah.
        kalo g, ya jangan tinggal di indonesia, tinggal aja di arab bung kalo mau full syariat,,,
        ;p

        temtu saja, untuk pedoman ibadah, tetap QH sumbernya,,,
        tidak bisa tidak, suka tidak suka, tiap2 muslim diwajibkan menerima seara kaffah,
        mai’na wa atho’na mastatho’na
        kami dengar, kami taat, sejauh kemampuan kami…

        masa anda mau memaksakan bahwa indonesia ini daulah?
        kenyataannya Indonesai ini kan bukan negara isalam, bahkan diatur oleh undang2 yg notabene hukum thogut(buatan manusia),

        contohlah Rosululloh yang berbesar hati mentaati perjanjian hudaibiyah (huku thagut) demi bisa melaksanakan syariat islam,,,
        patuhi undang2 yg berlaku di NKRI, selama tidak maksiyat demi tujuan yang lebih luas,,,:)

        tetap semangat

  11. Pemerintahan dengan praktek Khilafah juga sebenarnya tak lepas dari kerelaan rakyat (ridla al-ummat). Kedaulatan yang ada dalam praktek Khilafah tidak merepresentasikan kedaulatan Tuhan. Ekses dari kedaulatan (dalam ranah politik) di tangan Tuhan sangat berbahaya sekali, karena bisa menjadi legitimasi seorang Khalifah untuk berbicara atas nama Tuhan, dan yang membangkang seolah membangkang pada Tuhan. Tentu saja ini pandangan yang keliru. Dan sangat potensial melahirkan pemimpin despotik. Muhammad Imarah merasionalisasikan gagasan ini pada logika yang paling dekat; jika kedaulatan ada di tangan rakyat, maka Khalifah adalah wakil dari rakyat dan mengatur urusan rakyat. Sedang jika mengatakan kedaulatan Tuhan, maka Khalifah adalah wakil Tuhan dan merepresentasikan maksud Tuhan. Lalu, apa perbedaan pemerintahan Khilafah dengan dominasi Gereja pada masa kegelapan Eropa?

    Jika berpijak pada fikih klasik, maka pemerintah yang dipilih oleh rakyat dan terdapat wakil rakyat yang menduduki parlemen sudah sah secara syar’i. Oleh karena itu, ketika melihat konteks Indonesia, pemerintah Indonesia sudah sesuai dengan tata cara pemilihan pemimpin yang disebutkan dalam fikih klasik, karena presiden dilantik oleh MPR. Dan MPR adalah wakil rakyat yang statusnya tak berbeda dengan Ahlu al-Halli wa al-‘Aqdi.

    Dalam perkara dunia, umat Islam diberi kebebasan untuk menetapkan aturan yang selaras dengan kemaslahatan mereka. Sebagaimana dianjurkan untuk mengambil manfaat dari peradaban yang bermacam yang dihasilkan dari nalar manusia tanpa melihat bagaimana serta apa ideologi dari peradaban tersebut. Mengutip Muhammad Abduh, jika mengasumsikan bahwa wahyu sudah mengatur semua kehidupan manusia, diakui atau tidak, hal ini akan menghambat optimalisasi nalar dan kreasi umat. Banyak hal-hal yang baru bentukan peradaban modern tidak terdapat di dalam wahyu. Di sinilah peran manusia untuk berijtihad.

    Demokrasi adalah sistem ideal yang bisa diaplikasikan oleh semua Negara. Sistem ini sama sekali tidak bertentangan dengan Islam karena di dalamnya terdapat prinsip-prinsip Islami yang jelas termaktub dalam al-Qur’an dan al-Hadis. Yusuf Qardlawi bahkan menyebut demokrasi dengan Islam itu sendiri (Jawhar al-Islam). Pada demokrasi sudah mencerminkan praktek syura’ (QS. Ali Imran: 159), Ahl Al-Halli wa Aqdi (QS. Al-Nisa’: 59), menolak penguasa despotik (QS. Al-Baqarah: 258, QS. Al-Syu’ara: 150-152), mengikuti suara mayoritas (QS. Al-Tawbah: 105, QS. Al-Ghafir: 35) (diambil dari nu.or.id).

  12. aya_nisa says:

    sebenernya, demokrasi sendiri msh diperdebatkan dalam wilayah ijtihad,
    beberapa ulama salafiyyin maupun wahaby menolak demokrasi karena bukan bersumber dari QH. sebuah pemerintahan dikatakan khilafah jika memakai hukum QH, sedangkan demokrasi tidak,
    khilafah bersandar pada kepemimpinan khalifah, dimana khalifah adalah naungannya Alloh di muka bumi,seorang khalifah menjabat sampai mati/keluar dr islam, sedangkan pemimpin dalam demokrasi boleh saja sewaktu2 diganti jika rakyat menghendaki.belum lagi mekanisme pemilihan pemimpin, demokrasi membolehkan seseorang mencalonkan diri utk dipilih mjadi pemimpin, sedangkan haram dalam islam meminta jabatan dalam khilafah,

    tapi sudahlah, saya rasa kalau mau membahas demokrasi, janganlah dikaitkan dengan agama tertentu,
    daripada justru membuka perdebatan yang tak berujung,,,
    back to the topic, perbedaan pandangan (dalam hal keduniaan)adalah hal yang wajar,
    janganlah menjadi alasan utk bersilah pedapat.
    marilah berfokus utk membangun Indonesia tercinta ini sehingga tercipta kondisi yg semakin kondusif utk pelaksanaan syariat agama2.
    bisa hidup berdampingan dalam suasana harmonis shg masing2 kita nyaman menjalankan aturan agama.
    kalau kita yg umat islam saja saling ribut sendiri, kapan Indonesia maju?
    bukankah itu win2 solution?
    marilah berkontribusi aktif, jgn terjebak hanya berdialektika,,,,
    :)

    • Saya setuju dengan pendapat saudari kita di atas :)
      Tak ada sistem di saat ini yang benar-sempurna, lebih baik kita mencoba membenahi sistem sudah ada saat ini
      Marilah kita semua merelakan segala kepentingan pribadi dan golongan, untuk kemajuan bangsa ini
      Perdebatan hanya akan bermanfaat jika pada akhirnya menciptakan sebuah persatuan, bukan justru menuai perpecahan diantara kita
      “Life in perfect harmony like a beautiful spectrum of the rainbows”

  13. unix says:

    Waaahh jdi ini mengenai isu “nasionalisme sebgai ide memecah umat islam”.Oke2 sya ngasih padangan dri sudut filsafat dan sifat dasar psikologis manusia .Manusia pada dasarnya lebih “nyaman” jika masuk dlm lingkungan yg entitas sama misalnya agama yg sama,suku yg sama,budaya yg sama.Logikanya mana yg lebih nyaman antara bergaul dgn temen sedaerah atau dengan temen beda daerah yg blom kita kenal????.Nah klo nasionalisme dianggap biang kerok perpecahan,maka “agama pun” juga biang kerok perpecahan rasa kemanusiaan yg universal.Faktanya konflik dan perang yg mengorbankan banyak nyawa manusia ya krna ” dalih membela agamanya masing2″,sebut aja perang salib, korbannya tidak kalah banyak dengan konflik yg mengatasnamakan “nasionalisme” (contohnya perang dunia)”.Rasa “inklusifitas” ini yg jdi bumerang yg dimanfaatkan sekelompok manusia untuk mengadu domba satu sama lain.Mereka menanamkan doktrin2 fanatisme dengan tujuan menghimpun pengikut yg loyal.Bahkan didalam islam sendripun doktrin2 ini digunakan untuk membunuh/menggulingkan pemimpin saat ituu sebut aja kholifah Usman bin Affan,Ali bin Abi thalib semuanya dibunuh oleh sesama “sahabatnya sendiri” sewktu nabi masih hidup.Tooh dalam agama sangat jarang dari kita yg mencoba mempertanyakan asal usul ajaran kita masing2?”otentifikasi ajaran yg kita terima skrang dengan ajaran dgn sumbernya(nabi&rasul) bisa jadi beda krena kita mempelajarinya “gak langsung” tpi lewat perantara (buku,kitab,ulama,ustad,dlll). Kita hrus belajr sejarah dri diselewengkan sebagaimana ajaran2 Samawiyah terdahulu (Yahudi&Nasarani),bisa jdi juga ajaran islam yg skrang ada point2 tertentu yg diselewengkan.

  14. senorow says:

    mantab tulisannya 😀

Leave a Reply